Jumat, 18 Maret 2011

Desain ku : Baju cowok "Part 1"

Nah. . . kalo yang ini desain baju cowok. Cakep kan modelnya. . . hehehe
Yang ini aku juga bikin buat diterbitin dimajalah sekolah ku. Hhmm. . . bikin desain baju yang model cowok lebih susah lho. Soalnya yang cowok itu kan model bajunya juga terbatas. Aku buat ini dengan susah payah. Sebelum nge-gambar ini nih, temenku itu liat model baju cowok yang dipake tokoh komik. Gayanya itu bagus. Dia nyaranin aku bikin model baju cowok yang kayak gini. Lumayan susah sih awalnya, tapi akhirnya jadi deh. :)

Desain ku : Baju cewek Harajuku style "Part 1"


Ini dia gambar desain model baju cewek ala Jepang yang aku bikin buat majalah sekolahku. Idenya sih sebenernya dari model baju tokoh komik yang pernah aku baca. Eh. . . pas aku lihat model bajunya bagus, akhirnya aku bikin gambarnya deh. Owh iya, aku juga terinspirasi waktu aku cari gambar-gambar model baju di Google. Waktu aku liat, ada model baju cewek bagus banget. . . Akhirnya aku juga bikin gambarnya 'n aku paduin sama ideku. Dan akhirnya jadi deh kayak gini. . . . :)

Kamis, 17 Maret 2011

Sinopsis Novel : Fairish


Novel ini menceritakan tentang kehidupan sehari-hari seorang cewek bernama Fairish atau yang biasa yang dipanggil Irish. Irish adalah gadis yang agak tomboi, cuek, dan tak terlalu memperhatikan penampilan seperti Meta, Pipit, Daniar, Wulan, dan teman-teman lain seusianya.


Awal permasalahan yang menjadi inti cerita pada novel ini mulai tampak pada saat SMU Palagan, sekolah Irish kedatangan seorang siswa baru pindahan dari sebuah kota kecil di pinggiran Jakarta, bernama Davidio Daniel Dharmawan atau yang biasa dipanggil Davi. Seketika itu pula, Davi yang merupakan cowok yang sempurna mulai menarik simpati cewek-cewek yang ada di kelas itu. Tetapi ia tetap menanggapi itu semua dengan dingin. Ternyata tak semua cewek di kelas itu menaruh simpati padanya. Irish-lah satu-satunya cewek yang tak terlalu berminat untuk ikut-ikutan seperti teman-temannya yang lain. Mungkin hal itu memang karena sifat Irish-lah yang cuek.

Lain Irish, lain pula Davi. Justru dengan sikap Irish yang seperti itu membuat Davi suka padanya. Awalnya, ia hanya ingin duduk bersebalahan saja dengan Irish agar ia tak terlalu merasa terganggu mengingat sikap Irish yang tak terlalu perduli akan kehadirannya di kelas itu. Tapi, Davi mulai merasa ada kecocokan dengannya, sampai-sampai ia mulai menceritakan latar belakang kepindahannya dari sekolah yang sebelumnya.

Keputusan untuk pindah Davi lakukan untuk menghilangkan kenangan masa lalunya yang pahit dan terus menyiksanya. Di sekolah sebelumnya, Davi pernah mempunyai pacar yang bernama Meilani. Tapi, hubungan mereka tak berlangsung lama. Meilani meninggal saat sepeda motor yang dikendarai Davi untuk memboncengnya mengalami kecelakaan. Keluarga Meilani tak bisa terima akan kejadian tersebut. Dari sinilah Davi mulai berjanji tidak mau berurusan lagi dengan yang namanya cewek. Davi memang terkenal kasar pada cewek.

Untuk menghindari masalah tersebut, Davi pun meminta pada Irish untuk berpura-pura menjadi pacarnya. Sebenarnya Irish ingin menolak permintaan Davi tersebut. Walaupun Irish adalah cewek yang cuek, ia tetap menyadari bahwa Davi adalah sosok yang bisa memikat hatinya, dan karena rasa iba padanya, irish pun menerima permintaan Davi. Berdekatan dengan cowok cakep tidak seterusnya terasa indah, seperti itulah yang dirasakan Irish.

Setelah ia mulai memainkan perannya sebagai pacar pura-pura Davi, Irish mulai dimusuhi oleh cewek-cewek lain yang menaruh simpati pada Davi. Selain itu, Irish juga harus menahan perasaan sukanya pada Davi yang mulai tumbuh karena seringnya mereka bersama.

Perasaan itu mulai bisa ditekan ketika di sekolah Irish kedatangan seorang siswa baru lagi yang bernama Alfa. Alfa yang terkenal norak dan periang itu selalu menganggu hubungan Davi dengan Irish untuk menarik simpatik Irish padanya. Alfa pun berhasil, karena memang hubungan Irish dengan Davi hanyalah pura-pura. Davi tak bisa menolak keinginan Irish untuk selalu bersama Alfa, walaupun Davi sendiri mulai ada rasa suka pada Irish.

Menarik simpati Irish bukanlah tujuan Alfa yang sebenarnya. Alfa adalah sepupu Meilani yang tak bisa menerima perbuatan Davi yang mengakibatkan kepergian Meilani. Mendekati Irish hanyalah sebagai suatu siasat untuk memulai urusannya dengan Davi, meskipun pada akhirnya Alfa juga mengakui bahwa ia mulai suka pada Irish sejak ia sering bersama.

Davi memang bersalah, tapi tak sepantasnya ia dipermainkan seperi itu, apalagi jika ada sangkut-pautnya dengan perasaan. Davi mulai mengumpulkan keberaniannya untuk mengungkapkan semua rasa yang ada di hatinya pada Irish. Pada akhirnya Davi menyatakan perasaan cintanya itu pada Irish di puncak pegunungan tempat kenangan Davi dengan Meilani. Dan Irish-pun mengiyakannya karena memang sebenarnya dia mencintai Davi apa adanya.

Sinopsis Novel : Lululergic


Novel ini bercerita tentang seorang gadis remaja yang ingin hidupnya normal seperti remaja lain, bernama Rere. Rere adalah seorang remaja yang usianya belum genap 16 tahun, yang harus merelakan kepergian ibunya dimasa remajanya. Rere masih belum percaya atas kepergian ibu tersayang karena ibunya sebagai panutan hidupnya.


Kanker itu ternyata betul-betul menyerap tenaga ibu sampai habis. Sampai akhirnya ibunya menyerah dan pergi selama-lamanya. Rere menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Kenapa ibu pergi secepat ini? Rere masih ingin curhat.

Belum lagi, Rere harus melaksanakan kata-kata terakhir ibunya, untuk menjaga adik perempuannya yang berumur 5 tahun dan baru masuk TK yang selalu membuat Rere marah. Adiknya itu bernama Lulu. Lulu yang selalu membuat hari-hari Rere diisi dengan kekesalan. Sehingga Rere selalu menganggap Lulu sebagai monster kecil yang selalu menghancurkan masa remaja nya. Belum lagi, Lulu yang bikin kacau pemakaman ibu nyaris menguras seluruh waktu dan energi. Sejak saat itu Rere kesal sama Lulu.

Sudah begitu, Lulu maunya segala sesuatu sama Rere. Makan harus disuapin Rere. Mandi harus dimandiin Rere. Terus kalau pulang sekolah Rere harus menjemputnya. Di sekolah kalau keinginannya tidak dituruti, siap-siap saja mendengar tangisan geledeknya. Sampai kedengaran ke rumah tetangga-tetangga kompleks, walaupun ada mbak Marni (Baby Sitternya Lulu). huuhhfftttt...

Terus, Rere lebih kesal lagi karena tetangganya yang selalu memanggil Lulu sebagai monyet peliharaan karena sangat bandelnya Lulu yaitu Sakti. Sakti tetangga Lulu yang sok akrab banget, gokil sih, tapi norak banget. Belum lagi motor oranye-nya yang norak banget.

Rere hanya ingin masa remaja yang normal. Pacaran sama cowok idaman se-SMA. Punya adik manis yang baik, bukan bawel dan keras kepala kayak Lulu. Abang yang bisa diandalkan, bukan cuma mikirin cewek, cewek dan cewek!

Lulu yang menghancurkan PDKT Rere dan cowok pujaannya Nico. Dan yang paling kurang ajar anak itu berakrab-akrab ria dengan Sakti, tetangga mereka yang usil dan norak setengah mati.

Belum lagi, rasa kesal Rere memuncak karena Lulu ingin ikut bersama Rere dan Nico yang mau ngumpul sama sahabat Rere Icha dan Dilla. Yang lebih parah lagi Lulu membawa Sakti ikut bersamanya. Sesampai disana, Icha dan Dilla menatap heran ke arah Rere. Kenapa Rere bisa membawa Sakti dan Lulu? Semua terasa hening, Lulu malah ketawa cengengesan sama Sakti, kayak udah merasa gak ada salah aja. Dasar monster kecil yang nyebelin . ARRRGGHHH...

Nah, waktu Rere udah jadian sama Nico. Lulu masih saja membenci Nico. Padahal Nico udah baik banget sama Lulu. Nico pernah mengajak Lulu pergi ke kebun binatang pada hari Minggu. Bahkan saat Nico main ke rumah Rere, Lulu dengan sengaja menendang kaki Nico hingga ia kesakitan.

Sewaktu di sekolah Dilla tanpa sengaja mendengar pembicaraan Nico dan gang-nya. Kalau sebenarnya Nico pacaran sama Rere bukan karena cinta, tetapi karena taruhan untuk membeli tas buat Noni, pacar Nico. Rere cuma tahu kalau Nico sudah putus sama Noni, tetapi sebenarnya belum. Nico cuma mau memanfaatkan Rere.

Tiba-tiba saja teman Nico menambah taruhannya agar Nico memberikan kenangan yang tak terlupakan pada saat ulangtahun Ayu. Nico pun menyepakati itu, hingga Noni agak cemburu dan ngambek. Taruhannya adalah Nico mencium Rere pada saat ulang tahun Ayu. Mendengar perkataan mereka Dilla pun shock dan langsung buru-buru memberi tahu ke Icha. Icha sangat marah mendengar semua cerita Dilla. Ia ingin sekali menghajar cowok brengsek itu. Tapi mereka bingung bagaimana cara memberi tahu itu semua kepada Rere. Icha dan Dilla belum siap kasih tahu sekarang. Karena mereka takut Rere akan marah dan membenci mereka.

Nico mengajak Rere untuk datang ke acara ulangtahun Ayu. Lalu Rere menyanggupi ajakan dari Nico. Setelah itu Rere pergi ke kantin dan menemui kedua sahabatnya. Icha dan Dilla menatap kasihan pada Rere, lalu Dilla memberi tahu semua rencana jahat Nico terhadap Rere, tanpa memikirkan reaksi apa yang terjadi pada Rere. Lulu Rere pergi dan tidak meninggalkan sepatah kata pun pada mereka.

Malam pun tiba, Nico menjemput Rere dirumah nya untuk pergi ke pesta ulang tahun Ayu. Sesampai di pesta ulang tahun Ayu, Nico pun mengajak Rere ke suatu tempat yang tertulis kamar Ayu. Disaat Nico hampir mencium Rere, Rere segera menampar Nico. Nico melongo bingung. Makin bingung waktu Rere membuka setiap pintu yang ada dikamar itu. Blaaanggg! Pintu lemari terbuka lebar. Ada Vira, Noni, dan 3 cowok dengan satu orang memegang handycam dalam keadaan ON. Rere terperengah sakit hati. Otaknya berpikir keras untuka membalas perbuatan Noni.

Kejadian itu terlihat oleh Dilla, Icha, Bimma, dan Sakti. Nico tergagap. Saat itu Sakti terlihat ganteng banget, Bimma juga kelihatan keren.

Biar pun sakit hati sekarang Rere puas. Semuanya terbukti, Akhirnya tahu belang nya Nico. Ternyata cowok dengan wajah malaikat kayak Nico kelakuannya malah sebaliknya.

Dan Akhirnya, Rere tak kurang dari seminggu menjalin hubungan dengan Nico. Rere pun meminta maaf kepada Dilla dan Icha, karena Rere tidak percaya sama mereka.

Rere pun tahu kenapa adiknya Lulu selalu bertingkah aneh yang menyebabkan pusing tujuh keliling. Sebab, Lulu yang udah di tinggal ibu saat kecil. Dan menganggap Rere sebagai ibunya. Dan Rere pun sekarang bahagia menjalin hubungan dengan tetangganya itu, Sakti.

Sinopsis Novel : Imajinatta


Semua orang pasti punya hobi. Tidak terkecuali Natta. Natta suka dan gampang banget melamun alias berimajinasi. Dan hobinya itu jelas berguna. Bagaimana tidak, sementara di alam nyata Natta belum kenal secara resmi dengan Ditto, cowok yang dia suka. Namun di alam khayalan dia dan Ditto justru sudah selengket lem Super Glue. Hanya di dalam lamunannya sajalah ia bisa dekat dengan pangeran sepanjang masanya itu. Tapi sayangnya, itu hanyalah dalam khayalan Natta. Karena kenyataannya, ngomong langsung aja tidak pernah. Dan itu jelas jadi pemicu semangat Natta untuk mewujudkan mimpi jadi nyata.


Sahabat-sahabat Natta, Ina-Dara-dan Kinkin sebenernya cukup prihatin dengan Natta. Cinta Natta pada Ditto yang merupakan Ketua OSIS memang selalu terpendam dalam hati Natta dan hanya terwujud dalam khayalan Natta semata. Sedangkan di dunia nyata, cewek yang sebenarnya Ditto sukai adalah Sasa yang merupakan anggota OSIS juga. Sama seperti Ditto.

Tapi, lewat lomba “naskah” disekolahnya, Natta punya harapan untuk dekat dengan Ditto. Soalnya, pemenang lomba membuat naskah itu akan menjadi sutradara film kecil dan boleh memilih aktornya. Yah, tentu aja Natta bakalan memilih Ditto. Apalagi Ditto tidak keberatan ketika ditawari Natta sebelumnya. Hati Natta pun berbunga-bunga.

Hampir kesempatan untuk berdekatan dengan Ditto terealisasi, Natta terganjal problem. Ternyata, Natta belum tahu akan menulis apa dalam naskahnya. Natta memutuskan pergi ke sebuah taman di sudut yang tidak banyak orang tahu dan merenung disana. Tapi inspirasi belum juga muncul. Dan… Disinilah datang malaikat penolong. Sebut saja malaikat penolong itu dengan nama Kenzi. Ternyata, kedatangan Kenzi merupakan anugerah Tuhan. Kenzi membantu Natta habis-habisan. Kenzi rela melakukan apapun demi Natta. Dan Natta merasa berutang budi banget sama Kenzi. Tapi, meskipun sudah bersahabat, Kenzi masih merupakan orang yang misterius. Contoh, Kenzi nggak mau keluar dari taman itu ketika diajak Natta untuk bertemu Ina-Dara-dan Kinkin yang penasaran banget sama malaikat penolong Natta. Kata Kenzi “Kamu boleh minta apa aja tapi jangan minta keluar dari taman ini. Aku bener-bener nggak bisa, Nat!!”

Siapa sih sebenernya si Kenzi?? Ina, dara, dan Kinkin mulai meragukan Natta. Mereka curiga Kenzi hanyalah karangan Natta semata karena mereka belum sekalipun bertemu dengan Kenzi. Tapi, keyakinan Natta yang setengah mati bahwa Kenzi itu ada dan bukannya karangan membuat Ina-Dara-Kinkin berpikir lain. Jangan-jangan Kenzi adalah teman khayalan Natta.

Namun ternyata dugaan itu salah. Kenzi memang benar-benar ada. Singkat cerita, suatu hari Kenzi berjanji akan bertemu Natta di taman. Namun Kenzi tak kunjung datang. Ternyata Kenzi ada di rumah sakit di dekat taman tersebut. Kakak Kenzi menjelaskan bahwa Kenzi dari dulu memang sudah punya penyakit dan ketika itu memang penyakit Kenzi sedang kumat. Namun keadaan membaik, Kenzi bisa dibilang sembuh walaupun tidak sembuh sepenuhnya. Natta senang sekali bisa bertemu dengan Kenzi lagi. Dan ternyata Natta adalah cewek yang pertama kalinya Kenzi cintai.

Sebaliknya, Ditto yang merupakan pangeran Natta sepanjang masa sekarang sudah kena batunya. Ia tidak jadi menjadi aktor dalam film Natta karena kecerobohannya sendiri. Begitu juga dengan pacar Ditto, Sasa. Mereka sekarang terkena tulahnya. Dan Natta pun tak lagi mengagumi Ditto lagi.

Sinopsis Novel : Cinderella Rambut Pink


Novel Cinderella Rambut Pink ini bercerita tentang Dara, sang Cinderella berambut high light pink. Dara adalah seorang gadis biasa yang nyentrik tapi baik hati. Ia tinggal bersama dengan beberapa temannya disebuah kos-kosan yang cukup terkenal di Jogja. Kos-kosan itu bernama Soda. Kos-kosan ini kepunyaan Eyang Santoso. Dara sendiri merupakan anak yatim-piatu karna orang tuanya meninggal akibat kecelakaan saat ia masih kelas satu SMA. Alhasil, ia berhenti sekolah dan mencoba mencukupi kebutuhan sehari-harinya dengan bekerja. Awalnya, Dara tinggal di Bandung. Saat ia bekerja disalah satu kafe di Bandung, ia berkenalan dengan Eyang Santoso. Akhirnya, ia pun masuk dalam deretan nama anak kos Eyang Santoso. Saat ini, Dara bekerja di dua tempat sekaligus. Ketika pagi, ia bertugas di sebuah radio sebagai penyiar. Setelah selesai menyiar, ia langsung bekerja lagi di toko kaset.


Gara-gara ia ingin menolong seorang ibu yang tasnya kejambretan, ia pun akhirnya nekat melemparkan sepatu kesayangannya ke arah jambret tersebut. Bukannya kena jambretnya, bidikannya justru melesat dan mengenai seorang pria yang tengah asyik dengan kamera kesayangannya. Karena takut kena omel sama korban timpukan sepatu Dara, ia malah buru-buru kabur dari tempat itu. Yang ada, dia harus bisa merelakan Mr. Dekil, salah satu sepatu kesayangannya. Yang ada kini hanya Mrs. Dekil yang tetap nemplok dikaki Dara.

Cowok yang tidak sengaja kena timpukan Dara itu ternaya cucu dari keluarga kaya di Indonesia, JB. Montaimana. Dia bernama Oscar Montaimana. Meskipun ia berasal dari keluarga yang terhormat, Oscar tidak begitu bahagia dnegan kehidupannya. Ia cukup kesal jika harus dibanding-bandingkan dengan kakanya, Bima, yang sempurna banget! Hobi fotografinya pun juga ditentang keras oleh ayahnya. Alhasil ia tumbuh menjadi anak yang lumayan pembangkang dan suka bikin onar.

Kepulangan Oscar dari Amerika ternyata tanpa sepengetahuan orang tuanya. Yang ada, kakanya marah besar padanya. Ia menuding Oscar telah membuat keributan lagi. Makanya ia balik ke Indonesia. Namun diluar dugaan, ia justru sedang berlibur ke Jogja untuk melupakan kejenuhannya akan studinya disana. Selama di Jogja, Oscar tetap tidak lepas dengan kamera kesayangannya.

Hingga suatu saat, tanpa sangaja Oscar dan Dara bertemu muka. Bagi pandangan pertama Dara, kesan yang bisa ia tangkap dari Oscar, ia hanyalah cowok yang sangat super duper menyebalkan meskipun wajah tampan Oscar ternyata cukup bisa menawan hatinya. Padahal, Dara sudah punya pacar, Ray. Tapi sayang, Ray bukanlah cowok yang baik buat Dara.

Singkat ceritanya, Oscar ikut lomba fotografi dengan dengan tema "Cerita Dari Negri Dongeng". Disitu, Oscar secara diam-diam menjadikan Dara sebagai objek fotonya. Dan diluar dugaan, hasil karya Oscar terpilih sebagai juara favorit.

Dara syok dengan foto-foto yang ia lihat. Ia benar-benar telah salah sangka. Ia kira, Oscar dengan sengaja menjadikan dirinya objek untuk dipermalukan dimuka umum. Apalagi dengan alur cerita yang cukup menyedihkan. Satu hal lagi yang mengagetkan Dara, ternyata, Mr. Dekil yang selama ini dirindukannya, ada ditangan Oscar.

Atas kejadian itu, Oscar berusaha untuk meminta maaf pada Dara. Namun tak semudah itu Dara bisa memaafkan Oscar. Hingga akhirnya, Oscar diminta untuk balik lagi ke Amerika. Baru disitulah, Dara sadar, bahwa selama ini dia telah salah menafsirkan sikap dan sifat Oscar. Ia justru jatuh cinta pada Oscar.

Sebelum benar-benar pergi ke Amerika, Oscar pada akhirnya menyatakan cintanya kepada Dara. Dan Dara pun mengiyakannya. Dara pun diperkenalkan kepada orang tua Oscar, serta Bima yang tak lain telah Dara ketahui bahwa itu adalah kakak Oscar. Bima sendiri telah lama mengenal Dara. Maka tak heran bila Bima sempat marah karna ia tak mau Oscar mengganggu para penghuni Soda. Namun salah, justru itu sebaliknya. Dan Dara serta Oscar pun bahagia dengan cinta mereka.

Jumat, 04 Maret 2011

Sinopsis Novel : Akira Muslim Watashi Wa

Akira adalah seorang muallaf yang berasal dari Jepang. Dia memperoleh hidayah untuk memeluk Islam ketika belajar bahasa Indonesa di Jurusan Sastra UI. Lima belas tahun kemudian dia kembali ke Jepang. Awal yang berat bagi Akira ketika dia kembali ke Jepang. Sebab dengan bekal ilmu keislaman yang masih sedikit, dia harus menghadapi medan dakwah yang sangat menantang. Di Jepang , sebagian besar masyarakatnya percaya terhadap dewa-dewi, negeri yang maju teknologinya namun masyarakatnya berjiwa rapuh dan tidak peduli diri mereka menganut agama atau tidak. Semua itu tak mudah bagi Akira untuk menaklukan serta mempertahankan keislamannya.

Suatu hari, Akira menemukan para gelandangan di mushalla dekat rumahnya saat subuh tiba. Akira pun menolong mereka dan memberi mereka makanan. Para gelandangan itu sangat senang dan berterima kasih kepada Akira. Kemudian Akira bertemu dengan teman lamanya yang bernama Johzen. Dia senang dapat bertemu teman lamanya. Johzen mempunyai adik perempuan yang bernama Megumi yang katanya juga seorang mallaf. Namun dia kabur dari rumah. Suatu hari di tengah keramaian Festival Nebuta, puncak festival di musim panas, Megumi dikeroyok oleh dua orang lelaki. Akira melihatnya dan berusaha menolong. Tapi, malang nasibnya. Justru Akira yang dipukul sampai pingsan. Megumi yang hendak dilarikan dengan mobil, bisa menyelamatkan diri dan segera menghilang di tengah kerumunan. Sebelumnya, dia meninggalkan secarik kertas pada Akira, tertulis jelas tujuannya dan harapannya agar bisa bertemu Akira suatu saat nanti. 

Ketika siuman, Akira terkejut. Ayah, ibu, dan kakak perempuannya yang baru saja kembali dari Chicago telah menjadi pengikut Bunda Maria. Sementara kakak laki-lakinya yang selama ini tinggal bersamanya belum terikat pada agama apapun. Sejak saat itu, rumah Akira dipenuhi oleh pernak-pernik Kristen, semacam patung-patung Bunda Maria, Palang Yesus Kristus, dan nyanyian-nyanyian ala pemeluk Kristiani lainnya. Mendapati kenyataan ini, Akira bersedih. Merasa perjuangan hidupnya semakin berat. Niatnya untuk mendakwahkan Islam, harus terbentur pada masalah keluarganya sendiri. 

Belum selesai urusannya dengan keluarga, Akira harus menerima kenyataan yang lebih pahit lagi. Mushalla yang biasa digunakan untuk ibadah serta diskusi masalah keislaman bersama teman-temannya, dibakar oleh orang yang tak dikenal. Padahal, malam itu, Megumi yang telah diusir oleh keluarganya tiba-tiba datang dan menginap sementara di mushalla tersebut. Ketika api bisa dijinakkan, Akira tak menemukan tanda-tanda jasad Megumi. Akira terpikir untuk menemui keluarga Megumi. Melaporkan keadaan terakhir Megumi. Di rumahnya, Akira hanya menemukan Johzen. Ternyata dialah otak pengeroyokan Megumi pada Festival Nebuta. Dia pula yang bersikeras mengusir Megumi. Bahkan, sempat terlintas di kepala Akira bahwa dalang pembakaran mushalla adalah Johzen. Selanjutnya, Akira pun pergi menemui Dr. Toyyama, ayah Megumi, yang sedang mengajar di Universitas Tokyo. Di sana ia menceritakan semuanya. Dan terbongkar pula kalau Johzen hanyalah keponakannya, bukan anak kandungnya.

Masalah demi masalah datang silih berganti. Kasus Megumi dan pembakaran mushalla belum selesai, kehebohan lain datang dari Islamic Center di Tokyo. Ada Professor muda lulusan Amerika yang berceramah menyimpang dari ajaran Islam. Kemudian cobaan yang paling berat bagi Akira adalah dia diminta keluar dari rumahnya, tak boleh kembali dalam jangka waktu lima tahun. Sungguh, pengusiran halus dari orang tuanya. Namun untungnya ada seorang muallaf seperti Akira yang mau menolongnya. Dia bernama Mori. Dia menyuruh Akira untuk tinggal di rumah kontrakannya. Dan ternyata gelandangan yang dahulu pernah ditolongnya telah masuk Islam dan juga tinggal di rumah Mori. Disaat yang bersamaan dia juga menemukan Megumi yang sedang menyamar di taman. Megumi pun disuruh untuk ikut tinggal di rumah Mori. 

Sore harinya, ketika sedang jalan-jalan, tiba-tiba ada seseorang yang memukul Akira sampai babak belur. Namun kemudian ada yang menolonga Akira. Dan ternyata dia adalah kakak laki-lakinya. Seminggu kemudian di rumah Mori, Akira mengadakan diskusi tentang Islam karena teman-temannya dari Indonesia yang telah mengajari Akira tentang Islam datang ke tempat itu, walaupun lukanya belum sembuh benar. Akira sangat senang. Ketika itu Akira dan teman-temannya yang dari Indonesia serta para gelandangan yang telah dia tolong dan juga Dr. Toyyama berbincang-bincang tentang Akira yang belum menikah. Semua setuju apabila dia menikah dengan Megumi terutama Dr. Toyyama. Akhirnya pada saat itu juga dilangsungkan pernikahan Akira dengan Megumi. Tanpa sadar beberapa yang hadir di sana menitikkan air mata. Dan pernikahan itu diliputi perasaan haru. 

Ketika acara akad nikah baru saja selesai, ada seseorang dipintu masuk. Dan ternyata itu adalah kakak laki-laki Akira, yang bernama Kenji. Kenji mengatakan bahwa dia ingin masuk Islam dan mempelajari tentang Islam. Begitu terharunya Akira mendengar hal itu. Kakaknya yang cuek dan sering memarahinya kini ingin masuk Islam. Dan ternyata dia benar-benar menyayangi adiknya. Kenji ternyata tertegun dan salut kepada Akira yang benar-benar memperjuangkan Islam. Dan kini mereka berjanji akan memperjuangkan Islam bersama-sama dan akan menghadapi segala rintangan dan tantangan yang merupakan ujian bagi keimanan mereka.

Sinopsis Novel : The Twins Exchange

Cerita ini dimulai dengan adanya dua orang anak yang berasal dari keluarga yang berbeda namun wajah mereka sangat mirip. Hanya saja mereka berbeda jenis kelaminnya. 

Salah satunya bernama Editha Maharani Syahriel yang biasa dipanggil Edith. Dia berasal dari keluarga pianis. Mamanya adalah pianis cantik yang terkenal. Sedangkan Edith adalah cewek aktif yang suka sekali dengan judo. Olahraga keras itu seperti darah yang mengalir dalam nadinya, seperti napas yang setiap hari mengisi paru-parunya. Masalahnya adalah mamanya, si pianis terkenal itu, tidak ingin putrinya jadi atlet judo. Mama ingin Edith jadi pianis terkenal, persis seperti dirinya. Padahal Edith tidak suka main piano. Edith selalu berusaha kabur saat disuruh mamanya latihan piano. 

Sedangkan yang seorang lagi bernama Radith Bara Wejana. Dia dilahirkan dalam keluarga atlet judo. Orang tuanya mantan atlet judo terkenal. Kakaknya sedang dalam pembinaan untuk ikut Olimpiade. Adiknya ikut kejuaraan judo tingkat nasional. Orang tua Radith juga mengharapkan hal yang sama terhadap Radith. Masalahnya, Radith tidak suka judo. Dia lebih tertarik duduk berjam-jam berlatih piano, berlatih lagu-lagu gubahan komposer terkenal. Dia sangat lemah apabila disuruh untuk latihan judo. Sehingga dia sering diejek teman-temannya, terutama Rion yang selalu memanggilnya dengan sebutan cewek cantik. Rion selalu membuat keributan dengan Radith. Dia juga sempat membuat Radith babak belur. 

Suatu hari Edith disuruh mamanya untuk ikut festival piano se-Jakarta. Namun dia tidak mau ikut festival itu. Akhirnya dia memutuskan untuk kabur dari rumahnya. Diwaktu yang bersamaan, Radith juga disuruh untuk mengikuti pertandingan judo se-Jakarta. Seperti halnya Edith yang tidak inging mengikuti festival piano, Radith juga tidak ingin mengikuti pertandingan judo itu. Ketika Radith sedang berada di tempat latihan judo, dia disuruh pelatihnya untuk bertanding dengan Rion. Karena ingat dia pernah babak belur ditonjok Rion, Radith memutuskan untuk kabur. 

Di tengah jalan Radith bertabrakan dengan Edith. Menyadari kemiripan satu sama lain, mereka kemudian memutuskan untuk bertukar tempat walaupun resikonya berat apabila ketahuan. Akhirnya Edith menggantikan Radith mengikuti kejuaraan judo se-Jakarta sedangkan Radith menggantikan Edith mengikuti festival piano. Semuanya sepertinya aman-aman saja. Namun ternyata tidak demikian. Ketika Edith mulai mendapatkan haid pertama dan suara Radith mulai berubah, semuanya jadi tidak aman-aman saja. Mereka bingung karena dengan begini penyamaran mereka bisa ketahuan karena pada dasarnya mereka memang berbeda jenis kelamin. 

Hal yang dikhawatirkan merekapun terjadi. Rion yang sekarang sudah sadar dan tidak lagi memusuhi Radith melihat kejanggalan-kejanggalan terhadap diri Radith yang sebenarnya adalah Edith. Sedangkan Radith juga mulai menaruh hati pada Metta, teman akrab Edith. Namun Metta juga merasakan kejanggalan-kejanggalan terhadap Edith yang sebenarnya adalah Radith. Metta merasa seakan-akan Edith itu laki-laki, karena sebenarnya Edith samaran Radith itu memang laki-laki. Akhirnya suatu peristiwa yang mebuat penyamaran mereka ketahuanpun terjadi. Edith dan Radith menjelaskan semuanya pada orang tua mereka dan orang-orang di dekat mereka tentang penyamaran itu. Untungnya orang tua mereka bisa memahami alasan mereka dan berjanji tidak akan memaksakan kehendak lagi.

Semuanya berakhir bahagia. Radith sukses menjadi pianis terkenal dan seorang produser menawarinya untuk membuat album solo pertamanya. Tante Brigitte da Oom Aldi, orang tua Edith bangga sekali dengan prestasi besar Radith. Tentu saja Tante Yuli dan Oom Putra, orang tua Radith juga bangga. Edith berhasil menjadi juara dalam kejuaraan judo tingkat nasional. Kini dia tinggal satu asrama dengan Oland, kakak Radith. Mereka bersama-sama mempersiapkan diri mengikuti Olimpiade yang akan datang. Tante Yuli dan Oom Putra sangat bangga dengan prestasi Edith. Oom Aldi dan Tante Brigitte juga tidak kalah bangganya.

Akhirnya Radith bisa jadian dengan Metta. Tubuhnya kini semakin tinggi dan semakin tegap. Dia sama sekali jauh dari kesan cowok cantik. Edith juga senang bisa jadian sama Oland karena selama ini dia memang menaruh hati kepada Oland. Edith lega semuanya berakhir bahagia. Radith juga bahagia. Dan ini semua tidak akan pernah terjadi kalau saja tidak muncul ide gila untuk bertukar tempat.

Sinopsis Novel : Unbelieveable Love

Cerita dalam novel ini berawal dari Sharma yang pusing dan sebel dengan tingkah laku Kevin yang selalu saja menjahilinya. Secara fisik cowok itu layaknya pangeran. Tak heran banyak cewek-cewek yang suka padanya. Namun hal itu tidak bagi Sharma. Menurutnya Kevin hanya menjadi pengganggu saja. Sebenarnya Sharma suka sekali dengan Dimas, teman satu kelasnya dulu waktu kelas 1 SMA. Namun sekarang dia tidak sekelas lagi karena Dimas berada di kelas 2-6 sedangkan dia berada di kelas 2-7, sekelas dengan Kevin. Kevin sudah sering mengganggu Sharma sejak SMP. Apalagi semenjak papa Sharma meninggal, Kevin jadi semakin sering menjahili Sharma. Entah apa yang membuat Kevin suka menjahili Sharma. Padahal Sharma merasa tidak pernah berbuat salah sama cowok itu. Dirumah, Sharma hanya tinggal berdua dengan mamanya semenjak papanya meninggal karena kecelakaan.

Suatu hari Sharma mempunyai masalah dengan mamanya. Ketika Sharma meminjam handphone mamanya, dia membaca sebuah sms mesra dari seorang bernama Anwar, yang dulu merupakan mantan pacar mamanya sebelum menikah. Setelah membaca sms itu muncul beberapa pertanyaan dibenak Sharma.

Keesokan harinya, Sharma mendapati mamanya sedang berpelukan dengan Om Anwar yang sering sms mamanya itu di rumahnya. Melihat hal itu, Sharma langsung kabur dari rumah. Saat itu yang menolong Sharma ketika berusaha kabur dari rumah adalah Kevin. Beberapa hari Sharma tinggal dirumah Kevin. Di saat itu sikap Kevin sangat berbeda dengan biasanya. Kevin yang biasanya selalu menjahili Sharma kini justru menjadi tempat bersandar Sharma dalam menghadapi permasalahannya. Sebenarnya Sharma tidak mau pulang ke rumahnya. Namun dengan bujukan Kevin akhirnya Sharma pun mau pulang.

Sepulang sekolah Sharma kedatangan tamu bernama Lina. Dan ternyata dia adalah istri Om Anwar. Sharma kaget dan tidak menyangka kalau mamanya berhubungan dengan suami orang. Tante Lina bertengkar dengan Sharma dan mamanya. Dan akhirnya mama Sharma mengaku bersalah dan berjanji kepada Sharma untuk tidak mengulanginya lagi. Mama Sharma lebih memilih kehilangan Anwar daripada harus kehilangan anak tersayangnya.

Setelah kejadian itu Sharma menjadi dekat dengan Kevin. Karena tanpa disengaja Sharma sering curhat ke Kevin tentang masalahnya. Dia juga mulai melupakan tentang Dimas, malah yang ada dalam pikirannya saat ini selalu saja Kevin. Tetapi itu tidak berlangsung lama. Beberapa minggu kemudian ada anak baru disekolahnya bernama Stefi. Sharma cemburu karena Stefi sering mendekati Kevin. Dan dengar-dengar mereka sudah jadian. Tadinya Sharma ingin bertanya tentang kedekatan Kevin dengan Stefi, tapi dia tidak berani karena dia tidak ingin menggangu hubungan mereka dan tidak ingin seperti mamanya.

Setelah mendengar penjelasan dari Kevin, Sharma langsung kaget. Ternyata Stefi adalah anak dari Om Anwar dan Tante Lina. Dan Kevin pun menerima Stefi hanya karena dia kasihan melihat Stefi. Sebenarnya Kevin tidak ada perasaan sama sekali dengan Stefi. Dan ternyata dia hanya mencintai Sharma.

Semenjak itu Sharma menyendiri di rumah tantenya dan tidak mau bertemu siapa pun. Tetapi dia akhirnya mau untuk bertemu Kevin. Kevin berjanji jika nanti sudah liburan dia akan mengajak Sharma ke Paris. Betapa senangnya hati Sharma mendengar apa yang dikatakannya itu. Waktunya untuk liburan telah tiba. Sharma mendapat kabar kalau Kevin sudah putus dengan Stefi. Sharma langsung menangis tersedu-sedu karena dia merasa telah berbuat hal yang sama seperti yang dilakukan mamanya yaitu merusak hubungan orang lain. Namun Kevin tetap mencoba untuk meyakinkannya bahwa dia tidak sama seperti mamanya. 

Waktu pun berlalu. Rasa sedih Sharma kini telah hilang dan dia teringat oleh janji Kevin. Dia percaya dengan apa yang dikatakan Kevin bahwa dia tidak bersalah. Sharma pun sebenarnya memang mencintai Kevin. Namun perasaan itu dia pendam karena ketika itu Kevin sudah berpacaran dengan Stefi dan dia tidak mau merusak hubungan mereka. Dan baru kali ini Sharma menyadari bahwa dia harus menuruti kata hatinya. Dia harus bersama Kevin. Sharma pun akhirnya menelpon Kevin dan menanyakan janjinya untuk mengajaknya liburan ke Paris.

Sinopsis Novel : Kintaholic

Cerita dalam novel ini, berawal dari kekaguman Yanik pada sosok Kinta. Kinta adalah seorang bintang film Jepang yang sangat terkenal di seluruh dunia. Kinta memiliki banyak fans yang menyebut diri mereka sebagai Kintaholic. Sebenarnya, Yanik adalah salah satu Kintaholic itu. Namun, semua itu disembunyikannya dan dia takut untuk menceritakan kekagumannya akan sosok Kinta pada Lietha, sahabatnya. Karena Lietha yang sudah dianggap adik oleh Kinta tersebut, kurang suka dengan ulah dan tingkah laku Kintaholic yang menurutnya sering kelewatan.

Yanik selalu berharap kalau suatu hari dirinya bisa bermain bersama Kinta dalam film Jepang dan ternyata harapan dan impian Yanik terwujud. Ketika Kinta mengadakan audisi untuk mencari aktris Indonesia yang bisa berbahasa Jepang, Yanik terpilih. Selama di Jepang, mereka tinggal di rumah Kinta. Disana Yanik selalu didekati oleh manager Kinta yang suka dengan sesama jenis. Sang manager menyukai Yanik namun dia berusaha mencelakakan Yanik dan meninggalkannya ketika Yanik diganggu oleh anak-anak berandalan. Untungnya Kinta menolongnya.

Yanik akhirnya mulai menyukai sosok Kinta yang sebenarnya. Bukan hanya sebagai idola. Ketika Kinta sekeluarga bersama Yanik, Lietha dan Aldi pergi ke Disneyland, tiba-tiba ibu Kinta menyuruh Yanik untuk menemani Kinta. Yanik merasa bingung namun dia akhirnya mau menemani Kinta. Ketika itu, tiba-tiba Kinta menyatakan cintanya pada Yanik. Namun Yanik malah menangis karena terharu. Namun keesokan harinya Kinta bersikap biasa saja terhadap Yanik. Hari-haripun telah berlalu. Ketika Yanik berusaha memberanikan diri memberikan jawaban atas cintanya pada Kinta, mantan pacar Kinta yang bernama Kaede kembali ke kehidupan Kinta.Yanik merasa cemburu.

Akhirnya Yanik mau mengaku pada Lietha kalau dia adalah Kintaholic. Bukanya marah, Lietha justru setuju apabila Yanik bersama Kinta. Namun Kinta yang ditunggu-tunggu, tidak pulang ke rumahnya. Waktu Yanik untuk tinggal di Jepang pun berakhir dan dia pergi menuju bandara. Sebelum Yanik menaiki pesawat, ibu Kinta memberikan sebuah kotak kecil. Ibu Kinta menyuruh Yanik untuk membukanya ketika telah masuk ke pesawat. Yanik akhirnya memasuki pesawat dengan perasaan yang hancur karena Kinta yang ditunggu-tunggunya tidak kunjung muncul untuk yang terakhir kalinya.

Sesampainya di dalam pesawat, Yanik membuka kotak kecil yang diberikan ibu Kinta. Ternyata di dalamnya ada sebuah sapu tangan kumal dan secarik kertas. Di kertas itu Kinta menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Yanik yang telah menolongnya ketika dia masih kecil. Akhirnya Yanik teringat akan kejadian masa lalu. Dia pernah menolong seorang anak yang diejek oleh anak-anak lain karena wajahnya bukan seperti anak-anak lainnya. Dan Yanik memberikan sapu tangan itu untuk menutup luka anak itu. Yanik menangis karena baru menyadarinya. Ketika itu ada orang aneh bertopi dan bermasker duduk disebelah Yanik. Ketika orang itu membuka maskernya, ternyata orang itu adalah Kinta. Yanik benar-benar terharu. Pesawat pun lepas landas. Dan akhirnya Kinta mengikuti Yanik pergi ke Indonesia.

Cerpen : Sahabat Jadi Cinta

Suatu hari di teras kelas sepulang sekolah, ketika semua murid-murid sudah pulang, hening rasanya. Saat itu aku baru saja selesai menyapu kelas karena hari ini giliranku untuk piket kelas. Tiba-tiba terdengar suara seorang cowok yang mengejekku. Dan suara itu terasa tak asing lagi di telingaku.

“Heh Mbok jamu! Besok jangan lupa bawa catatan IPA, Matematika sama Bahasa Indonesia-nya ya. Aku mau pinjam. Hehe,,,” kata Rian.
”Iya iya. . . Rewel banget sih!” bentakku.
”Eits,,, wait ! Oh ya, catatan IPS juga ya,,, “ kata Rian lagi.
“Ndak sekalian Bahasa Inggris-nya juga?” sambungku.
”Ah ndak usah repot-repot Mbok. Kan kalo Bahasa Inggris aku ahlinya. Hehehe,,,” jawab Rian.
”Hiddih sombongnya. Dasar kamu tukang becak!!! Ya udah aku pulang dulu ya.” kataku.
”Iya. Ati-ati ya mbok jamu. Moga-moga laris jamunya. Hehehe,,,” ejek Rian.
”Apaan kamu?? Kamu tuh yang ati-ati, tukang becak! Jangan ngelamun kalo lagi narik becak. Kasian tuh penumpangnya. Weeeek,,,” balasku.

Dasar si Rian. Teman cowokku yang satu ini memang banyak maunya. Padahal baru saja aku kenal dia sekitar sebulan yang lalu. Tapi dia sudah berani mengejek-ngejek aku. Dia sering mengejekku dengan sebutan “Mbok Jamu”, tidak tahu kenapa. Huh, padahal sebenarnya namaku bagus. Oh iya aku belum memperkenalkan diri. Namaku Viola Nurina. Aku biasa dipanggil Ola. Tapi cowok yang satu itu tidak pernah memanggil nama asliku. Sama sekali. Siapa lagi kalau bukan Rian si “Tukang becak” itu.
Muhammad Dwiandrian, itulah namanya. Atau yang biasa dipanggil Rian. Tapi aku biasa memanggilnya “Tukang becak”. Habisnya, dia suka mengejekku terlebih dahulu. Ya akhirnya aku balas mengejeknya. Biar seri, haha. 

Aku mulai kenal Rian waktu pertama kali masuk kelas 7. Ya, aku dan Rian sekarang kelas 7. tepatnya di SMP Bumi Putra. Tentu saja aku sekelas dengan dia di kelas 7-1. Dia sebenarnya anak yang baik. Dia sering membantuku ketika aku membutuhkan dia. Tapi satu hal yang paling menyebalkan dari dia, dia suka mengejek-ngejek aku. Sudah begitu dia juga suka meminjam buku catatanku. Meminjamnya pun tidak hanya satu, namun empat atau malah lima buku sekaligus. Tapi aku rasa dia anak yang pintar. Karena nilainya selalu bagus-bagus. Terutama nilai Bahasa Inggrisnya. Hanya saja dia kadang-kadang malas dan butuh seorang penyemangat.

                                                                             *****

Setengah tahun pun berlalu, aku dan Rian jadi semakin dekat saja. Yah, walaupun dia masih sering mengejekku. Namun sudah tidak sesering dulu. Dia juga sering curhat ke aku. Dalam sehari dia selalu saja SMS aku. Aku juga merasa nyaman bisa cerita-cerita sama Rian. Dia satu-satunya cowok yang dekat denganku. Sebelumnya aku belum pernah dekat sama cowok apalagi sampai curhat-curhatan seperti ini.
Esok hari ketika aku sedang berjalan menuju kelas, tiba-tiba ada seseorang yang mengagetkanku dari belakang.

“Dooooorrrrr!!!” teriak Rian sambil menepuk pundakku.
“Eh copot eh copot,,, Ih kamu tuh Yan, bikin kaget aja. Kirain siapa pagi-pagi gini.” kataku.
“Hehe,,, kamu kaget ya?” tanya Rian
“Ndak! Ya kaget lah! Orang tadi juga aku latah sih gara-gara kamu. Padahal biasanya aku ndak pernah latah lho. Gggrrhhh,,,” jawabku sewot.
”Hiddih gitu aja marah. Ntar cepet tua lho.” timpal Rian.
“Ya terserah aku ow.” jawabku.
“Jangan marah raa. Ntar ndak ada yang bisa tak ajak curhat-curhat lagi.” kata Rian memelas.
“Hiddih kok kamu yang jadi sedih gitu sih. Aneh ah kamu tuh. Haha,,, lucu-lucu. Kamu kalo kayak gitu malah lucu Yan. Kayak anak kecil yang ngerengek minta dibeliin balon. Hahahaha,,,” ejekku.
“Hehehe,,, Ya udah raa sana beliin aku balon. Beli balonnya yang bentuknya limas aja. Sana cari. Hahaha,,,” celetuk Rian.
”Ah udah ah. Aku mau masuk kelas aja. Daripada ngelayanin kamu ndak ada untungnya.” kataku sambil melangkah menuju kelas.
”Eh eh,,, Ola, tungguin aku dong,,,” panggil Rian.

Aku pun terus melangkah menuju kelas tanpa menghiraukan Rian. Sesampainya di depan kelas, ternyata pintu kelasku belum dibuka. Huh, akhirnya terpaksa aku menunggu di depan kelas. Aku melihat Rian sudah sampai di depan kelas juga dan akhirnya mengikutiku duduk di teras kelas. Disitu hanya ada aku dan Rian. Teman-teman yang lainnya belum berangkat. Kami pun berbincang-bincang dan bercerita tentang berbagai hal.

Pandanganku tertuju pada sepasang kekasih yang sedang berjalan menuju kelas mereka. Sepertinya mereka anak kelas 9. Aku pun mengganti topik pembicaraan.
”Eh Yan, pacaran tuh enak ndak ya?” kataku memulai pembicaraan baru.
”Haaaah??? Hahaha,,, kamu belom pernah pacaran?” kata Rian dengan nada mengejek.
”Iya, emang belom. Napa emang? Aku ndak pernah kepikiran buat pacaran gih.” sautku.
”Owh gitu to,,, ya pacaran tuh kadang ada senengnya kadang juga ada sedihnya. Pokoknya berbagai perasaan tuh campur aduk jadi satu. Hehehe,,,” jawab Rian.
”Ooo,,, kamu udah pernah pacaran Yan???” tanyaku.
”Udah dong. Mantanku malah ada lima kayaknya. Hehehe. . . Tapi aku ndak pernah awet kalo pacaran. Itu juga ada yang cuma tiga hari langsung putus. Soalnya aku tuh orangnya bosenan. Hehehe,,,” jawab Rian bangga.
”Busyeeettt,,, kecil-kecil gini kamu playboy juga ya. Dasar kamu!” celetukku.

Tak lama kemudian Pak Sobir, penjaga sekolah datang untuk membukakan pintunya. Kami pun segera masuk ke kelas. Rian memilih tempat duduk yang berada tepat di depanku. 

Malam harinya, ketika aku sedang belajar, tiba-tiba HP-ku bergetar. Drrrt. . .drrrt. . . Ada SMS rupanya, dari Rian. 

From : Rian
Makasi ya La, kamu udah sering nyupport aku.
Mulai sekarang kita sahabatan ya ?

Haha. . . Rian Rian. . . Aku senang sekali Rian menganggapku sebagai sahabatnya. Dan yang paling membuatku senang, dia memanggil nama asliku. Padahal biasanya dia selalu saja memanggilku dengan ejekan ”Mbok Jamu”. Aku langsung saja membalas SMS-nya.

Iya Yan. . . mulai sekarang kita sobatan ?
Aku akan selalu ada disaat kamu butuh bantuanku ?
Hehehe. . .
Send

SMS-ku pun terkirim. Mulai saat itu aku dan Rian bersahabat. Kami selalu menyemangati satu sama lain. Aku selalu membantunya disaat dia membutuhkanku. Begitu pula sebaliknya.

                                                                         *****

Hari-hari pun terus berlalu. Tahun pun juga telah berganti. Tak terasa aku sudah kelas 9. Dua tahun aku sekelas dengan Rian. Namun sekarang aku sudah tidak sekelas lagi dengannya. Aku berada di kelas 9-1, sedangkan dia berada di kelas 9-3. Walaupun begitu, aku masih tetap dekat dengan dia. Namun sepertinya kedekatanku dengan dia sudah tidak seperti dulu lagi. Entah ini hanya perasaanku saja atau memang benar, aku merasa semenjak Rian sudah tidak sekelas lagi denganku, dia agak berubah. Dia menjadi lebih nakal dari sebelumnya. Dan dia pun sudah jarang SMS aku.

Sampai suatu saat aku merasakan firasat buruk. Pulang sekolah, ketika aku hendak keluar dari area sekolah, aku melihat Rian sedang berduaan dengan Linda, teman sebangkuku ketika kelas 8 yang sekarang sekelas dengan Rian. Seketika tubuhku kaku. Darahku seperti berhenti mengalir. Jantungku berdegup kencang sekali. Aku langsung saja keluar dari lingkungan sekolah. Nita, teman akrabku langsung mengikutiku. Aku melangkahkan kaki secepat mungkin menghindarkan diri dari kerumunan orang. Dan sampailah aku di sebuah trotoar jalan yang rindang dan sepi. Aku duduk di kursi yang ada disitu . Nita duduk disampingku.

”La,,, kamu kenapa? Kok tiba-tiba kamu langsung jalan gitu aja. Nggak nungguin aku dulu.” tanya Nita.
”Aku,,, aku ngerasain firasat buruk Nit. Ndak tau kenapa. Tiba-tiba aja datang firasat itu.” jawabku.
”Firasat buruk tentang apa La? Kamu harus cerita ke aku.” desak Nita.
”Rian Nit,,, Rian,,, Aku ngrasa Rian tuh tadi jadian sama Linda.” jawabku dengan suara parau.

Air mataku pun sudah tidak bisa dibendung lagi. Aku menangis. Entah apa yang membuatku bisa menangis seperti ini. Aku sendiri juga tidak tahu pasti. Rasanya ada yang masih mengganjal hatiku. Entah karena Rian jadian sama Linda yang dulu teman sebangkuku, ataukah karena Rian tidak pernah cerita tentang Linda kepadaku. Tidak tahu kenapa kali ini aku sungguh kecewa dengan Rian. Pipiku pun basah karena air mata yang terus berlinang. Nita pun mencoba menghiburku.

“La,,, mungkin kamu salah ngira. Mungkin aja Rian ada keperluan sama Linda. Kerja kelompok mungkin. Dia kan sekelas sama Rian.” kata Nita berusaha menghiburku.
”Ndak Nit,,, ndak,,, H-hatiku tuh berkata seperti itu. A-aku punya firasat buruk tentang Rian Nit. A-aku tau persis tentang dia. T-tentang Rian, Nit.” jawabku dengan suara sengau.
”Ya udah lah, La,,, kita lihat aja besok. Kalo nggak, kamu tanya langsung aja ke Rian, apa bener dia jadian sama Linda atau nggak. Kalo nggak SMS. Gimana?” usul Nita.
”Ndak Nit,,, aku ndak mau. A-aku ndak mau ikut campur urusan dia. A-aku ndak mau, Nit.” jawabku.
”Lho,,, bukannya kamu tuh sahabat Rian?” tanya Nita.
”Iya,,, T-tapi walaupun aku sahabatnya aku ndak mau ikut campur urusannya yang seperti ini, Nit. A-aku takut ntar malah dia jadi membenciku.” jawabku.
”Iya deh,,, iya,,, udah dong nagisnya. Ntar air matamu habis lho kalo nangis terus kayak gitu. Yuk kita pulang aja.” hibur Nita.

Aku pun tersenyum melihat Nita yang sudah berusaha keras menghiburku. Walaupun hatiku masih belum tenang. Akhirnya aku dan Nita pulang naik angkot. Sesampainya di rumah, aku segera masuk ke kamar dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku. Aku kembali menangis. Rasanya hatiku belum bisa tenang karena peristiwa tadi. Aku ingin sekali SMS Rian. Aku ingin sekali menanyakan semuanya. Semua yang terjadi tadi siang. Entah kenapa rasanya hatiku tidak ikhlas Rian jadian sama Linda. Aku,,, aku seperti cemburu. Aku juga bingung dengan perasaanku sendiri. Padahal aku hanya sahabatnya Rian. Kenapa aku harus merasa cemburu seperti ini ketika melihat Rian berduaan sama Linda? Aku kan bukan pacarnya. Seharusnya aku tidak cemburu seperti ini. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku hanya bisa menangis.
Firasatku pun benar. Keesokan harinya, ketika di sekolah beredar kabar bahwa Rian jadian sama Linda. Hari itu aku tidak ketemu Rian. Mungkin dia sibuk mengurusi pacarnya yang baru itu. Dan aku pun tidak dihiraukannya. Malam harinya, aku berusaha tegar. Kemudian aku mencoba untuk SMS Rian.

Yan,,, selamat ya. Kamu sekarang udah punya pacar baru.
Cie cie. . . traktirannya dong
Send

Rian pun membalas SMS-ku.
From : Rian
Iya nih,,, hehe,,, makasih ya La ?
Iya deh bsok aku traktir. . .

Aku senang dia masih membalas SMS-ku. Namun aku takut jika dia masih tetap memperhatikan aku seperti ini, sedangkan dia sekarang sudah punya pacar. Aku takut merusak hubungannya. Selain itu aku takut kalau aku jatuh cinta sama dia. Tapi mungkin sudah terlambat. Mungkin aku memang telah jatuh cinta sama dia. Aku merasa tidak ikhlas saja kalau dia pacaran sama Linda. Jangan, aku tidak boleh jatuh cinta sama Rian. Dia kan sahabatku. Aku tidak mau persahabatanku sama dia rusak gara-gara aku jatuh cinta sama dia. Aku tidak mau hal itu terjadi. Aku harus memendam perasaanku ini dalam-dalam. Aku harus melakukan hal itu.
Esoknya, Rian tidak jadi mentraktirku. Aku agak kecewa. Tapi mungkin lebih baik seperti ini. Daripada aku sakit hati melihat Rian dengan Linda. Lebih baik seperti ini. Awalnya aku memang syok ketika melihat Rian yang selalu saja sama Linda. Namun lama-kelamaan aku sudah bisa menerima hal ini. Rian pun sekarang tidak pernah SMS aku lagi. Aku juga berusaha untuk menetralkan kembali perasaanku. Melupakan semuanya dan menjalani hari-hariku tanpa mengingatnya. Aku pun akhirnya bisa melakukan itu. Aku sudah tidak tergantung dengan kehadiran Rian lagi. 

Sampai suatu saat aku melihat Linda sedang berduaan dengan seorang cowok. Entah cowok itu siapa. Aku tidak tahu. Dan sepertinya Linda dan cowok itu bertingkah laku tidak seperti halnya teman biasa, melainkan seperti sepasang kekasih. Aku berpikiran kalau Linda selingkuh dengan cowok itu. Namun aku tidak berani melaporkan hal ini ke Rian. Aku takut dia tidak percaya. Aku pun tetap bungkam dan berusaha tidak mengatakan padanya.

Dua hari kemudian, ketika aku berjalan di trotoar jalan sepulang sekolah, aku melihat Rian sedang duduk di kursi yang waktu itu aku duduki bersama Nita. Wajahnya murung sekali. Mungkin dia sedang ada masalah. Aku pun menghampirinya dan duduk disebelahnya. 

”Yan,,, kamu kenapa? kok wajahmu murung kayak gitu.” ujarku.
”Iya nih La,,, aku lagi ada masalah.” jawab Rian dengan suara parau.
”Masalah apa Yan? Cerita dong sama aku.” bujukku.
”Linda La,,, Linda selingkuh.” jawab Rian dengan singkat.
”Haaaah??? Linda selingkuh???” tanyaku memastikan.
”Iya,,, aku nggak tau kenapa dia nglakuin kayak gitu.” ujar Rian.

Sebenarnya aku sudah tau hal itu. Dan ternyata terbukti bahwa Linda memang selingkuh. Ternyata yang aku lihat waktu itu memang Linda dan selingkuhannya. Aku kasihan melihat Rian yang murung seperti ini. Aku mencoba untuk menghiburnya.

”Ya udah lah Yan,,, ndak ada yang perlu kamu sesali. Semua udah terjadi. Mungkin Linda cuma mau mainin kamu. Kamu ndak boleh lesu kayak gini. Kamu harus semangat kayak dulu lagi Yan. Pasti semua ini ada hikmahnya kok. Aku yakin itu.” hiburku. 

”Makasih ya La,,, kamu tetep aja baek kayak dulu. Aku minta maaf. Waktu aku pacaran sama Linda aku ndak pernah lagi peduli sama kamu. Maaf ya La.” ujar Rian menyesal.
”Iya Yan,,, ndak apa-apa kok. Kita kan sahabat. Sahabat kan harus selalu ada disaat kita butuh. Ya ndak?” kataku.

”Iya La. Aku janji aku akan selalu ada disaat kamu butuh aku.” ujar Rian sambil tersenyum.
Aku senang melihat senyumnya. Rasanya saat ini aku telah menjadi seseorang yang paling dekat dengannya. Malam harinya aku kembali merenung. Tidak tahu aku harus senang atau sedih. Senang karena aku bisa dekat lagi dengan Rian. Sedih karena usahaku melupakannya serta memendam dalam-dalam perasaanku ini gagal. Aku dilanda dilema. Aku bingung sekali dengan perasaanku ini. Aku teringat senyumnya tadi siang. tidak tahu kenapa aku merasa senyumnya itu tidak seperti biasanya. Senyumnya seperti benar-benar mengungkapkan perasaannya yang terdalam. Ah, tapi mungkin itu hanya perasaanku saja yang berlebihan.

Seminggu kemudian, ketika jam tambahan pelajaran, Rian sekelas lagi denganku. Dan tiba-tiba dia duduk di sebelahku. Deg. . . deg. . . Seketika jantungku langsung berdegup kencang. Entah kenapa, aku juga tidak tahu.

”La,,, aku boleh duduk sini kan?” tanya Rian.
”Emm,,, oh boleh,,, boleh aja kok. Silahkan aja.” jawabku dengan nada tersendat-sendat.
”OK. Makasih La.” ucap Rian.
”Oh ya sama-sama.” jawabku dengan mengembangkan senyum.

Ketika itu juga, perasaanku campur aduk. Ada senang, bingung, dan juga deg-degan. Yah, tapi mau bagaimana lagi. Rian sendiri yang meminta ingin duduk disebelahku. Awalnya sih terasa kaku. Entah kenapa. Padahal aku sudah cukup lama mengenal dia dan dia memang sudah sangat dekat denganku. Namun lama-lama seperti biasa juga. Rian memintaku untuk mengajarinya Matematika. Karena memang dia sulit untuk menangkap pelajaran itu. Sebaliknya, aku meminta Rian untuk mengajariku Bahasa Inggris. Tidak hanya hari itu Rian duduk disebelahku ketika jam tambahan. Hari kedua dan seterusnya pun seperti itu. Sampai-sampai banyak teman-teman yang mengira bahwa aku dan Rian pacaran. Padahal tidak. Aku sungguh tidak menyangkanya. Dan ternyata saat itu adalah saat terakhirku dekat dengan Rian.

                                                                               *****

Aku pun sekarang telah duduk di bangku SMA. Rian juga. Aku dan dia juga masih tetap berada di sekolah yang sama. Di SMA Bina Bangsa. Namun aku berada di kelas yang berbeda dengan dia. Dan semenjak masuk SMA dia tidak pernah lagi berhubungan denganku. Sama sekali tidak. Jangankan SMS, berbicara langsung dengannya saja tidak pernah sama sekali. Ketika ketemu saja dia menyapaku. Itu pun harus aku yang menyapanya terlebih dahulu. Jika aku tidak menyapanya terlebih dahulu, paling dia hanya menunjukkan senyumnya padaku tanpa menyapaku. Hal itu sangatlah aneh. Aku merasa dia berbeda. Tidak seprti Rian yang aku kenal dahulu. Sangat jauh berbeda. Aku seperti orang lain di mata Rian. Aku seperti orang yang baru saja dikenalnya. Dan bukan sebaliknya. Setiap aku mencoba untuk SMS dia, dia sama sekali tidak membalas SMS-ku. Aku ingin sekali menanyakan langsung tentang perubahan drastis yang terjadi pada dirinya. Ingin sekali. Namun aku tidak berani. Selain itu aku juga sudah tidak ada kontak dengannya walaupun hampir setiap hari ketemu.

Aku merasa sangat kehilangan dia. Walaupun raganya masih jelas terlihat oleh mataku, namun sikapnya sangat berbeda jauh. Dan itu seperti bukan Rian. Aku merindukan Rian yang dulu. Dan mungkin aku telah benar-benar mencintainya bahkan menyayanginya. Karena keadaan sudah semakin rumit seperti ini, aku mencoba untuk melupakan semua masa lalu yang pernah aku alami bersamanya. Sudah cukup sampai sini saja penderitaan batinku. Aku tidak mau hal ini terus berlanjut. Mencintai sahabat sendiri.
Waktu pun terus berjalan. Aku senang akhirnya bisa menetralkan kembali perasaanku. Aku sudah bisa menganggap Rian seperti halnya teman biasa. Rasa cinta itu telah hilang. Walaupun bayangannya masih tetap ada. Dan di dalam hatiku masih terukir bahwa Rian adalah sahabatku. Namun ternyata kisahku tidak hanya berakhir sampai sini.
                                                                                   *****

Suatu hari di tengah siang, matahari sedang teriknya menyinari jalanan aspal yang diselimuti dengan asap kendaraan bermotor. Ketika itu sedang liburan Semester 2 dan aku beranjak naik ke kelas IX. Aku baru saja pulang dari rumah temanku untuk mengerjakan tugas kelompok. Di tengah perjalanan pulang ketika aku sedang menunggu angkot di trotoar jalan, aku melihat ada seseorang yang mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Entah kenapa saat itu jantungku berdegup kencang sekali. Firasat buruk itu kembali muncul. Dan dalam beberapa detik terdengar suara yang mengagetkan semua orang. Ciiiitttt. . . Braaakkk. Ternyata seseorang yang mengendarai motor tadi tertabrak mobil. Aku langsung saja berlari menuju tempat kejadian perkara tersebut.

”Astaghfirullahal’adzim. . . Rian?!!” sontakku kaget.
Aku segera mengambil HP-ku yang berada di dalam tas dan menelpon rumah sakit untuk segera membawakan mobil ambulan.
”Rian. . . bertahanlah Rian. Bertahanlah sebentar lagi.”kataku sambil menyandarkan kepala Rian dipangkuanku.

Darah mengalir begitu banyaknya. Sampai darah itu turut mengalir di tangan dan sekujur badanku. Tak lama kemudian mobil ambulan pun telah tiba. Rian segera dimasukkan ke dalam mobil itu. Aku pun ikut masuk ke dalam. Di dalam mobil aku segera mengambil HP-ku dan mencari nomor telepon rumah Rian di kontakku. Langsung saja aku menelpon ke rumah Rian, dan sesaat kemudian ibu Rian mengangkatnya.

”Halo, ini siapa ya?” tanya ibu Rian.
“Bu, ini Ola, temennya Rian. Rian baru saja kecelakaan, Bu. Ini saya masih diperjalanan naik mobil ambulan menuju Rumah Sakit Bahtera. Rian ada disini dan kondisinya parah.” jawabku.
”Apa?! Rian kecelakaan??? Terus sekarang gimana keadaannya Nak Ola?” tanya Ibu Rian kaget.
”Rian pingsan, Bu. Pendarahannya banyak.” jawabku.
”Oh ya sudah. Ibu segera ke sana. Makasih ya Nak Ola.” kata Ibu Rian.
”Iya Bu, sama-sama.” jawabku sambil menutup pembicaraan.

Aku menatap wajah Rian. Kasihan dia. Dan tanpa terasa air mataku mengalir. Aku tidak kuat melihatnya. Badanku lemas sekali rasanya.

Sesaat kemudian sampailah kami di rumah sakit. Rian segera dibawa ke ruang UGD. Aku pun menunggu di ruang tunggu. Tiba-tiba ibu Rian datang dan segera menghampiriku. Ibu Rian sudah mengenalku karena dulu aku pernah main ke rumah Rian.
”Nak Ola, gimana keadaan Rian?” tanya Ibu Rian.
”Keadaannya parah, Bu. Darah yang keluar banyak.” jawabku dengan suara parau.
”Nak Ola, bajumu berlumuran darah itu. Kebetulan ibu bawa kaos punya Rian. Kamu pake ini aja.” kata Ibu Rian sambil mengambil kaos di dalam tasnya.
”Iya Bu. Makasih.” jawabku. Kemudian aku segera pergi ke toilet untuk mengganti bajuku yang berlumuran darah. Setelah selesai, entah kenapa tiba-tiba saja kepalaku pusing sekali. Semuanya seperti bergoyang-goyang. Pandanganku buyar. Badanku lemas sekali. Dan akupun tidak tahu apa yang terjadi setelah itu.

                                                                               *****

”Ola,,, ola bangun. Ola???” terdengar suara cowok yang agak parau.
”Iya,,, bangunlah Nak Ola.” terdengar pula suara wanita yang lembut sekali.
Pelan-pelan pelupuk mataku terbuka. Dan ternyata di hadapanku ada Rian dan ibunya. Rian duduk di kursi roda. Aku pun terbangun. Ternyata aku ada di tempat tidur di rumah sakit itu.
”La, kamu kenapa sih, aneh banget tau ndak? Haha.” kata Rian.
”Lho kamu udah ndak apa-apa Yan? Udah ndak sakit? Aku kenapa?” kataku bingung.
”Haha. . . kamu pingsan dua hari, La. Hahaha. . . dasar kamu. Aku justru udah ndak apa-apa kok.” jawab Rian sambil tertawa.
”Hah. . . what??? Aku pingsan dua hari? Lama banget?? Tapi kamu beneran udah ndak apa-apa kan Yan?” tanyaku kaget.
”Iya, haha. Beneran deh. Aku udah ndak apa-apa kok. Waktu itu katanya sih aku kekurangan darah. Tapi udah ada persediaan donor darah. Jadinya bisa langsung terganti darahnya yang hilang itu. Hehe. Kamu sendiri udah baikan kan?” kata Rian.
”Iya. Aku ndak apa-apa kok Yan. Hehe.”
”Rian, Nak Ola. Ibu keluar dulu ya.” kata Ibu Rian menyela pembicaraan.
”Iya, Bu.” jawabku dan Rian bersamaan. Kemudian kami tertawa bersama. Ketika itu aku merasa nyaman sekali. Bisa dekat lagi dengan Rian. Kemudian, suasana berubah. Sunyi sesaat.

”La,,, maaf ya akhir-akhir ini aku ndak pernah ngasih kabar ke kamu. Ndak pernah balas SMS-mu juga. Ndak pernah ngobrol-ngobrol lagi sama kamu. Itu karena aku sayang kamu, La. Aku ndak mau kamu sakit hati gara-gara aku. Aku ndak mau lihat kamu menangis gara-gara aku.” kata Rian tiba-tiba.
”Hahaha,,, kamu ngomong apa sih Yan??? Ngelindur ya?” jawabku dengan bercanda.
“Eh malah ketawa. Beneran lagi, La. Aku ngerasain hal ini udah cukup lama. Dan kamu tau sendiri kan kalo aku tuh orange kayak gimana. Aku tuh bosenan kalo sama cewek. Aku berusaha menghindar darimu agar perasaanku ini tuh ndak semakin kuat. Aku takut kalo aku jadiin kamu pacar, ntar malah ujung-ujungnya kita bisa bertengkar. Dan persahabatan kita pun akhirnya jadi sia-sia. Ini juga demi kebaikan kamu, La. Maafin aku ya kalo aku baru bilang sama kamu tentang perasaanku yang sebenarnya ini.” jelas Rian panjang lebar.
Aku tertunduk. Memikirkan hal yang baru saja Rian katakan. Ternyata apa yang selama ini aku rasakan sama seperti apa yang dirasakan Rian.

”Iya Yan. Ternyata yang kita rasain itu sama. Aku juga begitu. Tapi mungkin kita lebih baik seperti ini saja. Tetep sahabatan. Walaupun kita sama-sama sudah tau perasaan kita masing-masing, ndak ada salahnya kan kalo kita ngejalanin ini sebatas sahabat. Toh menurutku sama aja bukan. Kita masih tetep bisa curhat-curhat, bisa bercanda, bisa ejek-ejekan juga. Ya ndak??? Hahaha.” kataku sambil ketawa.
”Iya ya. Bener juga katamu, La. Yang penting kita bisa saling membantu satu sama lain. Dan yang lebih utama lagi kita bisa mengerti satu sama lain. Kita tetep jadi sahabat kan?” tanya Rian.
”Iya donk.” jawabku. Kemudian Rian memberikan jari kelingking tangannya kepadaku. Dan aku pun membalasnya dengan mengaitkan jari kelingkingku ke jari kelingkingnya.
”Best friend forever.” ucapku dan Rian berbarengan. Kemudian kami tertawa lagi.
”Haha. . . dasar kamu mbok jamu. Bisanya ikut-ikutan aja. Weeekkk.” ejek Rian.
”Heh. . . enak aja kamu bicara kayak gitu tukang becak. Bukannya kamu yang suka plagiat ya. Enak aja bilang aku yang ikut-ikutan.” balasku.
”Ow tidak bisa mbok jamu. Anda salah itu. Seharusnya lebih efektif lagi anda tidak mengatakan yang suka plagiat tetapi plagiator. Hahaha. . . Bahasa anda tidak efektif. Haha.” kata Rian sambil tertawa terpingkal-pingkal.
”Heh tukang becak, sejak kapan kamu jadi komentator kayak gitu. Ndak jelas banget ah. Dari pada ngurusin tukang becak mendingan aku ke toilet aja ah. Dadah tukang becak. Oh iya, sekarang kan tukang becaknya yang jadi penumpangnya ya. Haha. . .” ejekku.
”Haaah??? Penumpang?” tanya Rian bingung.
”Lha itu sih kamu kan lagi naik becak bukan narik becak. Hahahaha. . .” kataku sambil tertawa terpingkal-pingkal.
”Oh, ini sih kursi roda. Bukan becak tau. Dasar kamu.” jawab Rian.
”Hahaha. . . whatever.” jawabku singkat.

Tuhan pun ternyata telah menakdirkan aku dan Rian untuk tetap bersahabat walaupun kami telah mengetahui perasaan kami masing-masing. Dan semua pun akhirnya kembali seperti sedia kala saat aku pertama kali mengenal Rian, si ”Tukang becak”.


                                                                        ***SELESAI***
cerpen karya : Intan Nur Shabrina